Cerpen 2019 : Ramadhan Terakir Untuk Ibu

Cerpen 2019 : Ramadhan Terakir Untuk Ibu - Aku selalu memperhatikan tubuh tua renta itu terbaring tak berdaya, beralaskan kasur busa yang tipis sesekali ia menyingkapkan selimut yang sedang dipakai "Sambil berkata ah Panas", tubuhnya hanya tulang berbalut kulit saja, tidak jarang aku mendengar ia batuk hingga terbangun dari tidur, siang malam ia tidak pernah pergi meninggalkan tempat tidur itu.

Lemah tak berdaya, kadang untuk buang air pun hanya terbaring saja, tetapi lekuk senyum di wajahnya selalu terpancar seolah tidak ingin mengeluh ataupun kesakitan meski sebenarnya jauh dalam hatinya ia sedang merintih kesakitan, ia selalu menutupi kesedihan hingga aku tidak pernah tau kapan ia sedang bersedih.



Ia selalu pandai menutupinya hingga aku tak pernah tau kapan ia menangis, yang aku tau saat ini ia sedang terbaring menahan tusukan demi tusukan penyakit itu, sekujur tubuhnya selalu terasa dipenuhi jarum ketika penyakitnya kumat maka disekujur tubuh seperti tertusuk jam tanpa henti, berulang kali dan setiap hari. Namun ia tidak pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang sedang di deritanya.

Berjalan bertahun-tahun lamanya tanpa menyerah, tubuhnya sudah dipenuhi dengan penyakit menyebar ke bagian pencernaan, hati, bahkan tulang dan otak, tidak ada satu organpun yang tidak diisi dengan penyakit, ia tidak pernah marah atau merasa lelah bahkan dalam dirinya selalu ada cita-cita untuk melihat anak cucunya tumbuh dewasa.

Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya meski ekonomi terasa menyekik leher, aku ingat saat kami sekolah beban biaya kuliah yang dalam hitungan matematika tidak akan cukup untuk membiayainya kami semua, aku adalah anak nomor dua dan satu orang saudara lebih tua dan satunya lagi adalah adik perempuan.

Kami tumbuh besar, kuliah secara bersama, usia yang hanya terpaut dua tahun membuat kami tidak ada pilihan, jika satu orang kuliah artinya semuanya juga akan masuk kuliah, sementara Ibu hanya PNS biasa yang gajinya sudah habis di potong pinjaman KTA Bank, meski hanya tersisa 500 rb aku bersama dua saudara ku selalu berusaha membantu sebisa mungkin untuk memenuhi kebutuhan kuliah.

Gali lobang tutup lobang menjadi usaha yang tidak bisa dipisahkan karena itulah cara kami untuk bersekolah, bahkan tidak jarang hutang sampai puluhan juta karena beban kuliah. Ibu tidak pernah menyerah meski badannya sudah menua, tidak ada waktu istirahat baginya hanya ada waktu bekerja menghasilkan receh demi receh pundi-pundi uang untuk sekolah.

Tiba kami sudah lulus kuliah dan tidak lagi memakan biaya, disaat ia seharusnya menikmati jerih payah masa tua, ia disibukan dengan pergi untuk berobat karena penyakit yang ia derita, tidak ada waktu istrihat bagi tubuh tua rentanya disisa umur menjelang tua ia menerima sakit amat parah, kami sebagai anak berangsur-angsur bisa memperbaiki ekonomi keluarga.

Sebagai seorang anak sedih rasanya melihat Ibunda terbaring tak berdaya, sebelum sakit parah kami memang memutuskan secara bersamaan untuk menikah jadi meski, ia sakit parah sudah melihat cucu-cucunya tumbuh dewasa, sebagian cantik dan sebagian ganteng moment terbaik dalam hidupnya adalah bermain bersama cucu-cucu dirumah.

Disela-sela sakit paranya beliau selalu menyempatkan diri untuk berpuasa di bulan suci Ramadhan, padahal berulang kali kami sebagai anak mencoba untuk menjelaskan bahwa orang sakit tidak wajib berpuasa, tetapi sunggu tidak terduga jawaban dari Ibu.

Aku : Ibu orang sakit tidak wajib berpuasa cukup bayar Fidiah.
Ibu : puasa atau tidak sama saja, sama-sama tidak makan.


Mendengar hal tersebut kami hanya bisa diam dan mendoakan semoga dengan berpuasa Allah meringankan beban sakit Ibu, tanpa terasa Ibu puasa ramadhan sampai satu bulan penuh meski sakit parah beliau selalu berusaha untuk berpuasa. Senang rasanya bisa melihat Ibu berpuasa satu bulan penuh di bulan ramadhan.

Kami menghabiskan waktu sembari menikmati puasa Ramadhan penuh suka cita dan bahagia, sayangnya puasa ramadhan itu bukan puasa ramadhan tahun ini. Puasa Ramadhan Tahun lalu adalah puasa terakhir bagi Ibunda, tahun ini beliau tidak lagi menjumpainya karena Allah sudah memanggilnya pulang.

Yang tersisa puasa ramadhan tahun ini hanya kenangan ramadhan tahun lalu dari Ibunda untuk anak-anaknya bahwa dalam keadaan apapun meski sulit sekalipun berpuasa adalah hal yang wajib, jika Ibu bisa berpuasa dalam keadaan sakit, maka tentu kita yang sedang sehat sekarang tidak ada alasan untuk tidak berpuasa.

Ramadhan oh Ramadhan tanpa terasa kini engkau datang kembali, tapi tidak dengan Ibuku, ia pergi dan tak pernah kembali, sesekali aku teringat saat moment berbuka puasa dan sahur bersama Ibu tahun lalu rasanya melihat  beliau puasa bukan seperti orang sakit, penuh ceria dan tertawa, berbuka dan sahur tahun ini tidak ada lagi senyum Ibunda.

Kadang aku hanya terdian sejenak sambil mengusap air mata, seakan tidak percaya Ibu meninggalkan kami begitu cepat karena penyakit kangker payudara stadium akhir yang sudah di deritanya sejak dua tahun yang lalu, tahun ini adalah tahun ketiga jika Ibu masih ada, sayangnya cerita tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya.

Pesan untuk kalian yang masih memiliki Ibu, jika kalian saat ini berada jauh dari rumah maka pulanglah ambil cuti mu atau libur dan bersama orang tua, karena yang ditanya ketika Ibu masih ada bukan berapa banyak anak ku memiliki harta, bukan berapa banyak kita bisa memberikan uang untuk orang tua, tetapi hanya satu "Kapan anak-anak Ibu bisa pulang dan berbuka puasa bersama". Ibu kita merindukan kita jadi kapan kalian yang sedang membaca ini bisa menemui Ibu.

Jika memang tidak sempat pulang cobalah untuk telpon saat berbuka puasa dan membangunkannya saat sahur tiba, Meski kehidupan saat ini terasa sangat sulit, dimana pikiran rindu kepada ibu akan hilang karena memikirkan kebutuhan sehari-hari, tetapi percayalah bahwa rindu itu tidak akan pernah hilang jika kita merindukan seseorang yang tidak akan pernah kembali lagi.

Sebelum ia pergi cobalah katakan "Aku Sayang Ibu" karena setelah ia tidak begitu tarasa arti kata itu bagi kita. Di puasa tahun ini memang aku tidak akan pernah berjumpa lagi dengan Ibu, tetapi aku percaya bahwa Ibu selalu ada disetiap kali kami bersama, Apalagi aku adalah salah seorang yang sangat dekat degan Ibu.

Kebiasaan yang sering dilakukan adalah curhat tentang perasaan kepada beliau, ia selalu antusias mendengarkan aku meski dalam keadaan yang kurang baik. Tetapi sekarang tidak ada lagi tempat curhat berkeluh kesah kadang rasanya ingin memeluk erat Ibu. Meski sudah ada anak dan istri aku tetap merindukan sosok Ibu, dimana aku menjadi sosok seorang anak yang tidak pernah dewasa dimatanya. Untuk mu Ibu semoga engkau mendapatkan pengampunan dari Allah dan ditempatkan disisinya yang layak, mendapatkan nikmat kubur hingga menunggu persiapan di panggil ke syurga amin.

0 Response to "Cerpen 2019 : Ramadhan Terakir Untuk Ibu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel