Cerpen 2020 : Rindu Dari Sang Pengecut

Cerpen : Rindu Dari Sang Pengecut - Tanpa terasa ya, 20 tahun sudah berlalu kini usia ku tidak lagi muda, tidak seperti dulu yang punya banyak energi melakukan aktivitas demi untuk mendapatkan perhatian mu. Tubuh ini semakin lama terasa semakin berkurang fungsinya. Apa kabarnya engkau yang jauh disana, aku harap engkau merasakan hal sama seperti ku.

Rindu ingin bertemu, kamu bilang dulu aku yang paling lucu sesekali kamu menyentuh wajah ku dengan tersenyum, meski aku sadar bahwa itu hanya sentuhan seorang sahabat, tetapi aku tidak peduli rasanya sudah cukup untuk bahagia. Aku memang tidak pernah memiliki mu satu kalipun tetapi meski mulut ini tidak berkata aku tetap menyayangi mu.


Bahkan setelah 20 tahun kita tidak lagi bersama aku tetap sama, selalu menjadi laki-laki bodoh seperti dulu, aku tidak pandai belajar, bahkan hanya mengumpulkan sedikit uang dari hasil kerja ku, meski aku tidak terlahir dari anak orang kaya, perjuangan ku untuk membagiakan mu tetap sama seperti mereka yang terlahir kaya.

Dalam benak ku hanya akan ada satu wanita dalam hidup ini, yaitu kamu, meski aku sadar bahwa kesempatan untuk memiliki mu tidak ada, aku seperti sebuah batu kecil yang ada di tengah gurun pasir, sesekali ia akan hilang dari pandangan karena tertutup pasir.

Aku hanya setitik air yang ada dalam sebuah danau besar, tidak pernah terlihat meski kita tau disana ada air. Tetapi meski kecil aku pernah ada dalam hidup mu, entah itu berarti atau mungkin tidak sama sekali. Ribuan hari telah aku lalui hanya sendiri berteman sepi lagi dan lagi.

Aku ingat betul dulu dua puluh tahun yang lalu, tidak ada hal yang membahagikan dalam hidup ini kecuali melihat mu memperhatikan ku, bodohnya aku, kekanak-kanaan aku hanya ingin menarik perhatian mu. Semua hal yang aku lakukan hanya untuk melihat mu tersenyum.

Tahukah kamu aku yang sedang duduk termenung berteman dengan tinta dan kertas menulis surat untuk kau baca berisi rindu, Tuhan tolong sampaikan rasa ini, rasa dimana aku saat aku sangat ingin melupakan mu, saat yang bersaaam cinta ini semakin terasa besar. Aku tau kita sudah tidak muda lagi tidak terasa usia kita sudah 35 tahun.

Sudah cukup tua untuk seseorang yang hidup sendiri, bagaimana dengan kamu yang hanya terpaut satu tahun saja dengan usia ku. Apakah rencana kita untuk memiliki anak akan tersampaikan atau mungkin hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang akan aku simpan dua puluh tahun lagi.

Kadang aku bertanya hal itu depan mu, tetapi kau hanya dia saja tanpa mengatakan hal satu kata pun, disisi lain aku merasa bingung saat aku mencurahkan semua isi hati ini, kamu hanya terdian saja duduk dan sesekali tersenyum. Apakah kamu tau bahwa aku disini sangat merindukan mu, dua puluh tahun kita tidak bertemu.

Rasa ini akan terasa sangat berat, meski aku bukan Dillan tetapi rasanya memang seperti itu, sampai kapan aku harus memikul beban rindu ini. Aku ingat betul saat terakhir kali engkau mengatakan kepada ku bahwa kita akan memiliki anak yang banyak dan bahagia sampai tua.

Tetapi sampai hari ini sudah berlalu 20 tahun janji itu belum kau lunasi, apakah kau akan membiarkan aku tua sendiri, tanpa mu. Hari ini tepat usia mu 35 tahun aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, aku disini selalu menunggu mu entah sampai kapan. Aku bukan anak remaja lagi tetapi masih saja tetap tolol.

Berbicara sendiri dengan sebuah batu yang bertulis nama mu, 20 tahun lamanya engkau sudah meninggalkan ku belum sempat mengutarakan isi hati ini kamu sudah lebih dulu meninggalkan aku. Aku seperti orang tolol yang setiap hari datang kepemakaman hanya untuk mencurahkan semua isi hati, tetapi tetap saja kau hanya diam.

Tidak lelah aku menunggu mungkin suatu hari nanti Tuhan akan mengirim orang yang berbeda dengan rasa yang sama untuk ku, atau mungkin kamu akan menungguku hingga kita bersatu lagi. Rasa ingin sekali aku melupakan mu yang sudah tiada tetapi aku tidak pernah bisa satu haripun hanya ada kamu, kamu dan kamu.

Aku lelah menahan rindu ini, tidak ada yang berubah cinta ini, rasa, sayang semua hanya untuk kamu, ya kamu yang sudah tiada meninggalkan aku dan membiarkan aku menua sendiri, kau tau betapa lelahnya aku datang setiap hari ke peristirahatan terakhir mu, berbicara berjam-jam sendiri tanpa ada satu kata pun dari kamu.

Semoga Tuhan mempertemukan kita dari orang berbeda tetapi rasa cinta yang sama, dari aku yang selalu merindukan mu, Calon Kekasih, kau meninggal sebelum mengungkapkan rasa cinta kepada ku, sampai aku tau dari orang lain bahwa kau memiliki rasa yang sama berpuluh-puluh tahun memendam rasa yang sama hingga tidak sempat cinta hingga membawa mati bersama mu.

Hal yang paling aku sesali sepanjang hidup adalah tidak pernah mengatakan perasaan ini sejak dulu sebelum kau pergi untuk selamanya, tetapi semua itu sudah terlambat itulah yang membuat aku tidak akan pernah memaafkan diri ini, kesendirian ini mungkin hukuman bagi yang pengecut seperti ku, selamat jalan semoga engkau tenang disana, dari ku yang selalu menyayangi mu.

0 Response to "Cerpen 2020 : Rindu Dari Sang Pengecut"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Pendaftaran.Net

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel